Dari Santri Untuk Dunia
Oleh H. Anis Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., P.hD
Jika berbicara tentang kekuatan global maka globalisasi yang paling unggul adalah umat Islam baik yang bergerak ke timur (arab) maupun ke utara (barat). Tantangan kita saat ini adalah new era (era ke depan) bagi organisasi pendidikan yang sudah berusia panjang sering bercerita masa lalu.[1] Hal ini terjadi pada hampir seluruh instansi organisasi pendidikan Islam yang kebanyakannya adalah mengenang masa lalu apalagi jika hari kemarin ada hal yang gemilang, sementara yang dibutuhkan itu adalah hari besok ada hal yang gemilang itu artinya menyiapkan masa depan. Sehingga pendidikan itu tanpa kita mengatakan secara eksplisit adalah Persiapan Masa Depan karena itu pendidikan harus membaca kebutuhan masa depan.
Gagasan yang diberikan beliau terkait persiapan masa depan adalah Peningkatan Kompetensi Kapasitas Guru, karena itu adalah kunci dasarnya termasuk yang menjadi guru kepala sekolah/madrasah disitulah titik kekuatannya. Apabila guru tidak ada kemauan, kemampuan untuk menumbuhkan keilmuan dan kapasitasnya maka siap lembaga tersebut akan mengalami kemandekan.
Apakah bisa seorang pendidik digantikan dengan sebuah teknologi? (Silahkan jawab sendiri) Atau pertanyaannya dirubah, Guru macam apa yang bisa digantikan teknologi? dan guru macam apayang tidak bisa digantikan tekonologi?
Menurut beliau adalah guru yang cara ngajarnya begitu-begitu saja. Guru yang mekanistik, guru yang tidak bawa kebaruan itulah guru yang mudah diganti oleh teknologi, tapi jika seorang guru yang inovatif, inspiratif, kreatif dan yang terlibat dengan siswa tidak ada teknologi yang bisa mengganti keberadaannya. Kita sebagai pendidik masuk yang mana, apakah yang pertama atau kedua (silahkan simpulkan sendiri jawabannya). Analogi kecilnya dahulu kita ketika menjadi murid menyukai bukunya (pelajaranya) atau gurunya.
Coba kita berkaca dari masa belajar kita dari RA-SMA berapa guru yang diingat? Pada umumnya rata-rata siswa jika ditanya dengan cepat berapa guru yang paling diingat saat itu, maka jawabanya adalah 5 guru yang langsung keluar namanya di pikiran seorang murid. Lalu muncul pertanyaa guru macam apa yang diingat? (silahkan simpulkan) yang pada intinya dari kacamata murid ada dua tipe guru yang selalu diingat Menyenangkan dan Menyebalkan. Sekarang bertanyalah pada diri sendiri, kita ini akan menjadi guru (pendidik) yang akan diingat atau dilupakan. Ini merupakan pertanyaan sederhana tapi ini menentukan kualitas pendidikan. Semakin banyak guru diingat berarti semakin baik kualitas pada saat kita belajar. Semakin banyak guru yang menginspirasi maka semakin banyak guru yang menempel di benak kita.
Inilah masalah utama kita, oleh karenanya gagasan yang perlu dilakukan saat ini seharusnya ada keseriusan dalam mengembangkan kemampuan kapasitas guru dalam proses mendidiknya. Persoalan mengubah kurikulum itu baik-baik saja, tapi mengubah orang yang menjalankan kurikulum itu jauh lebih tepat. Analogi kecilnya adalah dalam hal memanah, boleh saja kita mengganti busur atau anak panah menjadi lebih baik, namun selama pemanahnya tidak meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya dalam hal memanah tidak akan membuat target sasaranya itu tercapai. Sehingga perlu diberikan red line terhadap dunia pendidikan Islam yakni keseriusan mengembangkan kemampuan kapasitas guru. Ini semua masih terkait guru dan tenaga pendidiknya. Hal selanjutnya yang menajdi PR besar adalah anak-anak didik.
Anak didik kita saat ini itu berada di abad 21 dan mereka aktif dalam dunia digital, sementara gurunya berada di abad 20 dan sekolahnya para guru itu pada abad 19. Beliau memberikan contoh tempat-tempat yang mana tidak adalagi pembagian kelas seperti dikebanyakan kita saat ini. Seperti halnya tercipta sebuah universitas tertua di dunia Universitas Al Azhar Mesir terbentuk dari sebuah pembelajaran halaqah-halaqah di dalam masjid dan bukan model pembelajaran yang klasikal. Maksudnya adalah bukan satu rumus untuk sebuah urusan tapi kita harus membuka perspektif baru tentang Bagaimana Pengelolaan Kelas Abad 21? Inilah hal yang sangat urgent saat ini.
Berkaitan dengan murid beliau memandang bahwa ada 3 unsur dasar dan 2 unsur pendukung yang dibutuhkan. 3 unsur dasar diantaranya adalah
- Akhlak atau karakter inilah yang menjadi perhatian utama saat ini, yang selalu digaris bawahi terkait karakter itu ada 2 yaitu; Karakter moral dan Karakter Kinerja.
- Karakter moral yang dimaksud itu seperti rendah hati, tawadhu, beriman, sopan
- Karakter kinerja yang dimaksud itu seperti rajin, jujur, amanah, tuntas, ulet, tangguh, tidak mudah menyerah, dan berani mengambil keputusan.
Inilah tugas besar guru, untuk menumbuhkan 2 karakter tersebut secara bersamaan. Kemudian sering-seringlah menggunakan istilah menumbuhkan karakter bukan menanamkan karakter. Karena karakter itu ditumbuhkan bukan ditanamkan. Contohnya adalah apakah kita menginginkan murid yang diproyeksikan kita itu jujur, rendah hati tapi malas? Atau kerja keras, tangguh, tapi culas? Tentu jawabanya tidak. Oleh karenanya kedua karakter di atas perlu ditumbuhkan secara bersamaan.
- Literasi, di new era saat ini literasi sudah sangat melampaui. Kajian-kajian terkait literasi itu saat ini luas sekali. Oleh karena itu hal yang selanjutnya untuk dikerjakan adalah jadikan literasi itu hal yang perlu diseriusi. Literasi seperti apa itu yang perlu diseriusi? Literasi informasi, media, teknologi, keuangan, kewarganegaraan. Unsur dari literasi itu saat ini cukup banyak. Sebuah lembaga yang masih terpaut dengan literasi CALISTUNG sekarang sudah lewat jauh sekali. Literasi ini memperluas wawasan ini mendasar sekali.
- Kompetensi/Skill. Dalam hal ini adalah terbagi atas 4 bagian
- Kreatifitas
- Kemampuan untuk berfikir kritis
- Kemampuan berkomunikasi
- Kemampuan untuk kolaborasi
Hal inilah yang sering kita lemah. Kita menguji anak-anak kita bukan seberapa kritis dia dalam satu permasalahan, bukan seberapa kreatif dia tapi seberapa imitatif dia. Apa sih maksudnya? Contoh kita memberikan sebuah buku kepada si murid, kemudian suruh dia pelajari nanti bulan depan diuji. Pertanyaannya adalah seputaran isi buku yang jawabannya paling sama dialah yang paling tinggi. Jadi kesimpulannya selama ini kita mengajar imitatif. Beda halnya jika kita berikan buku kemudian berikan kritik terhadap buku tersebut, apa kurang dan kelebihan buku tersebut, nah seperti itulah kita mengajari berfikir kritis. Tapi kalau masih seperti sebelumnya yang jawabannya sama persis dengan buku maka cara mengjar kita hanya berupa imitatif. Hal inilah yang perlu untuk di rubah sehingga kemampuan kritis, kreatif, imajinasi muncul. Disinilah abad 21 yang dimunculkan. Pak Anis berkata; “Mau menang di masa depan, maka kuasai 4 kompetensi ini”. Alasannya simpel karena besok anak didik kita akan berkompetisi di level dunia bukan lagi lintas kabupaten/kota dan level dunia yang dibutuhkan saat ini itu adalah 4 kompetensi di atas.
Kalau kita tidak membekali anak didik dengan kemampuan kolaborasi nanti masalah. Kemampuan kolaborasi di Indonesia merupakan kelemahan terbesar. Ilustarsi kecilnya adalah kemenangan olimpiade kemarin indonesia rata-rata dalam cabang individu (badminton, panjat tebing, MTQ internasional dsb) menang kenapa karena kemampuan kerja kelompok kita tidak ditumbuhkan sehat dari kecil.
Oleh karna itu harus serius menumbuhkan kerja sama kolaborasi. Dan tidak mungkin dikerjakan secara individu, karna syariat ini disebarkan secara berjamaah.
- Pengembangan Kepemimpinan. Hal ini merupakan landasan dasar untuk dikerjakan. Dan hampir di kebanyakan tempat pelatihan kepemimpinan itu sering melupakan prinsip dasar. Apa syarat untuk menjadi seorang pemimpin? (ranungkanlah sendiri) Apakah jika dia seorang yang bijak, jujur, amanah dll.? Itu semua benar tapi itu adalah syarat pemimpin yang baik. Lah terus apa dong syaratnya? Syarat menjadi seorang pemimpin adalah adanya makmum. Masa ingin disebut pemimpin tapi tidak ada yang dipimpin kan lucu…Wkwkwk. Nah hampir semua pendidikan kepemimpinan kita tidak menekankan seorang makmum, tapi menekankan karakter seorang pemimpin yang baik. Analoginya adalah ketua preman di terminal itu pemimpin atau bukan? Benar dia pemimpin, masalahnya dia baik atau tidak? Tidak baik, tapi poinnya disini adalah pemimpin. Nah kenapa yang membuat pemimpin dan yang dipimpin itu tidak nyambung? Karena kita membesarkan pemimpin dan melupakan yang dipimpin. Setiap kita berbicara soal kepemimpinan seakan-akan kita berbicara tentang satu orang. Ini adalah tentang satu kelompok, selama tidak ada makmumnya anda bukan seorang imam. Pemimpin itu bila dia diikuti secara sukarela. Ini konsep kepemimpinan yang perlu ditumbuhkan.
- Pemahaman tentang global. Saran beliau untuk poin ke lima ini diharapkan semua ruangan kelas untuk memasang peta dunia bukan sebatas peta indonesia. Supaya sadar jarak antara Aceh dan India lebih dekat daripada Aceh ke Papua. Dan Jakarta ke Singapura lebih dekat daripada Jakarta ke Medan. Apa yang mendasari hal itu penting? Supaya pengetahuan dia tentang dunia membuat dia sadar bahwa dia merupakan 3 warga (Saya warga Klaten, Warga Indonesia, dan Warga Dunia) itu yang harus ditumbuhkan. Kesadaran global ini yang kemudian diturunkan dalam bentuk kemampuan bahasa. Terkait dengan kemampuan bahasa maka beliau memberikan usulan tambahkan bahasa internasional bukan bahasa asing. Sehingga wawasan internasional diturunkan dalam bentuk bahasa ini juga artinya mereka melihat ketika anak didik kita memiliki mimpi tentang perannya. Jadi kalau ini kita membicarakan tentang peringatan hari santri, bagaimana santri mewarnai dunia maka dia harus membayangkan lebarnya ruangan dunia. Oleh karena itu pentingnya menempelkan peta dunia di ruang kelas agar bisa membayangkan hal di atas menurut hemat penulis.
Pertanyaannya adalah siapa yang harus memulainya lebih awal? Apakah gurunya atau muridnya? Benar mulailah dari gurunya. Maka sekali lagi pentingnya mengembangkan kemampuan kapasitas guru. Kita selalu menginginkan perbaikan pada generasinya tapi tidak tahu darimana harus memulainya. Maka jadilah guru yang pembelajar selama kita mau jadi pembelajar maka kita bisa menjawab tantangan masa depan.
[1] Cara mengetahui sebuah organisasi sudah berusia panjang adalah dengan melihat foto-foto kalender-kalender kegiatan. Apakah foto-foto tersebut foto masa silam atau masa depan. Jika kebanyakannya foto masa lalu maka organisasi tersebut sedang bernostalgia jika kebalikannya maka inilah organisasi masa depan.

