RESESI EKONOMI SERTA DAMPAKNYA YANG HARUS DIANTISIPASI

Penulis: Fahmi Khothib

Kata resesi menjadi sebuah kata yang seksi untuk dibahas akhir-akhir ini. Bahkan faktanya kata ini menjadi sebuah alasan kuat kenapa kubu 02 melebur ke pemerintahan bersama kubu 01 dengan alasan bahwa PR bangsa ini semakin besar ( salah satunya prediksi resesi ekonomi ), sehingga semua elemen bangsa ini perlu bersinergi.

Apakah makna resesi ekonomi?

Dalam KBBI disebutkan arti kata resesi adalah : kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya (seolah-olah terhenti); menurunnya (mundurnya, berkurangnya) kegiatan dagang (industri).
Menurut National Bureau of Economic Research (NBER) yang dilansir dari CNBC Indonesia, resesi adalah periode menurunnya aktivitas ekonomi (jual-beli) yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan. Secara umum, resesi adalah kondisi pertumbuhan ekonomi yang menurun secara signifikan, setidaknya selama enam bulan.

Penurunan ini biasanya akan menyerang lima indikator ekonomi yaitu, PDB (Produk Domestik Bruto) riil, pendapatan, pekerjaan, manufaktur, dan penjualan ritel. Sinyal peringatan yang menandai resesi, yakni ketika ada beberapa pertumbuhan yang melambat, sekalipun angkanya masih positif.

Resesi yang mulai dialami oleh negara-negara di dunia ini tidak terlepas dari perang dagang antara Amerika dan Tiongkok. Keduanya semakin kompetitif dalam persaingan ekspor. Hal ini memanas ketika Amerika merasa Tiongkok mencuri kekayaan intelektual dan teknologi Amerika Serikat dan mempraktikkan perdagangan yang tidak fair (salah satunya dengan menurunkan nilai tukar [devaluasi] mata uangnya sendiri). Praktik-praktik tersebut membuat ekspor Tiongkok menguat dan menyaingi Amerika Serikat. Itulah yang membuat Presiden Trump memulai perang dagang per Maret 2018 dan semakin masif pada Agustus 2019, dengan menaikkan bea masuk dan menciptakan hambatan dagang bagi produk Tiongkok yang akan masuk Amerika.

Tindakan ini dibalas Tiongkok dengan menerapkan hambatan dagang serupa untuk barang Amerika Serikat yang akan masuk ke Tiongkok. Akibatnya, nilai ekspor kedua negara itu turun (bisa dicek di sini dan sini). Akibatnya, nilai perdagangan kedua negara itu turun. Komoditas yang terpengaruh adalah garmen, peralatan, dan barang elektronik (Tiongkok) serta kedelai, minyak mentah, dan produk farmasi (Amerika Serikat).

Hal ini berdampak pada ekonomi secara global karena nilai perdagangan kedua negara ini sangat besar. Sepanjang 2018 misalnya, pertukaran uang antara keduanya mencapai 660 miliar dolar AS (sekitar Rp8.400 triliun rupiah).

Sebetulnya dampak perang dagang kedua negara tersebut tidak sama untuk setiap negara lain. Hal ini bergantung pada seberapa erat hubungan negara tersebut dengan Amerika dan/atau Tiongkok. Selayaknya sebuah hubungan, kalau hubungan itu lekat dan akrab, tentu akan berdampak besar. Namun, jika tidak, pengaruhnya tidak akan terlalu besar.

Sebagai ilustrasi, Katakanlah Tiongkok banyak mengekspor gorengan ke AS, yang mana tepung dan minyaknya disuplai dari Indonesia, maka ketika ekspor gorengan Tiongkok ke AS turun, angka pembelian tepung dan minyak Indonesia juga turun. Begitu juga sebaliknya.
Indikasi adanya resesi ekonomi di Amerika Serikat ditunjukkan dengan terjadinya inversi kurva pada imbal hasil (yield) dua obligasi negara Amerika Serikat atau US Treasury. Inversi yang dimaksud di sini adalah yield obligasi tenor pendek yang seharusnya rendah lebih tinggi dibanding yield obligasi tenor panjang.

Pertanda ini kemudian direspons para investor dengan berinvestasi di surat utang Pemerintah Amerika Serikat bertenor panjang. Pilihan investasi ini menjadi langkah yang diambil dalam mengamankan kekayaan mereka. Tidak sedikit pula para investor yang mengonversi dananya dalam bentuk emas buat melindungi nilainya.

Dengan melihat fenomena tersebut, para analis memprediksi resesi ekonomi bakal melanda Amerika Serikat. Apalagi inversi kurva pada yield obligasi pernah terjadi sebelum krisis ekonomi 2008 terjadi di Amerika Serikat.

Sebagaimana definisinya, resesi ekonomi adalah kelesuan ekonomi yang ditandai dengan menurunnya aktivitas ekonomi secara signifikan yang berlangsung dalam waktu beberapa lama. Tentu saja adanya resesi tidak bagus buat sektor bisnis. Berikut ini dampak-dampak yang bakal dirasakan seperti yang dikutip dari Investopedia.

✅Resesi ekonomi menyebabkan pendapatan dan profit menurun.

✅Turunnya pendapatan diikuti dengan merosotnya harga saham dan dividen.

✅Pembayaran kredit perusahaan tersendat-sendat.

✅Resesi ekonomi mengakibatkan terjadinya PHK dan berkurangnya benefit karyawan.

✅ Berkurangnya kualitas atau kuantitas dari produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan.

Ketika resesi terjadi, apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang ?

Saat resesi, uang cash bisa dikatakan adalah raja, sehingga banyak orang menyiapkan uang cash atau menjual assset tetap dijadikan cash atau menabung emas serta deposito dalam jangka pendek. Hemat kami : Cash itu penting, Namun sebaiknya cash yang baik itu harus dijadikan penghasil cashflow ( di buat usaha yang tahan resesi yang akhirnya menghasilkan hasil uang rutin). Karena nilai uang saat inflasi tinggi juga akan berampak buruk terhadap cash yang kita endapkan.

Berdasarkan sedikit keterangan diatas, maka seyogyanya negara, perusahaan harus bersiap-siap untuk betul-betul investasi pada SDM. Karena SDM yang handal akan mampu bersaing menciptakan bisnis di sektor riil atau menggerakan bisnis, dimana sektor riil adalah sektor yang lebih tahan krisis.

Yayasan Kirap Arsyada.

KE Syariah. Serius Sesuai Syariah