Islam, Nikmat Terbesar dalam Hidup Kita

 

oleh : Ust. H. Tri Widayatno, ST, MSc, PhD

– Pembina Yayasan Kirap Arsyada

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru kaumnya dengan ucapan “aslim taslam” atau “quluu laailaha illallaahu tuflihuun”, seruan yang menunjukkan bahwa Beliau memahami dengan sesungguhnya hakikat keselamatan, keberuntungan, kesuksesan yang hanya dapat dicapai dengan berserah diri (berIslam) dan menghambakan diri kepada Allah Ta’ala. Sehingga, Rasulullaah Muhammad begitu bergembira dengan masuknya Islam dan berimannya seseorang sehingga beliau mengucapkan puji syukur kepada Allah Ta’ala dan mendoakan supaya Allah Ta’ala meneguhkan imannya.

Hidayah itu begitu mahal, tidak bisa dicapai hanya karena keturunan, bahkan kedekatan dengan Nabi atau Rasul atau dengan orang shalih sekalipun. Nikmat iman semata-mata karena rahmat dan karunia Allah Ta’ala. Sehingga jika Allah mengaruniakan hidayah iman dan Islam sudah semestinya kita bersyukur kepada Allah Ta’ala dan berusaha sekuat tenaga agar senantiasa berpegang teguh dengannya.

Ketika kita menemukan diri kita saat bangun tidur, tiba-tiba berada di suatu tempat yang baru dan kita tidak ingat dan tidak menyadari apa yang sesungguhnya terjadi, maka apa yang akan kita lakukan? Normalnya pasti akan timbul berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati dan pikiran kita. Mengapa saya di sini? Untuk apa saya di sini dan apa tujuan saya di sini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan selalu menggelayutinya hingga dia mendapatkan jawaban yang sebenarnya.

Begitulah gambaran ketika kita terlahir ke dunia ini, masing-masing dari kita tiba-tiba hadir di dunia ini tanpa kita sendiri merencanakannya. Tanpa bisa memilih ibu, keluarga, suku, lingkungan, warna kulit, kaya, miskin, dan banyak hal lain yang menjadi bagian dari diri kita. Tidakkah timbul pertanyaan dalam diri kita? Mengapa kita ada di dunia ini, untuk apa kita ada dan apa tujuan kita hidup di dunia ini.

Ada kelompok besar manusia dalam menyikapi hal ini, kelompok pertama orang yang tidak beriman atau bahkan tidak percaya adanya Allah Ta’ala, ditambah angggapan bahwa tidak akan ada hari kebangkitan dan pembalasan. Bahkan mempercayai bahwa mereka hadir di dunia ini secara kebetulan saja (by chance) tidak ada yang menciptakan dan tidak ada tujuan hidup yang pasti (objective purpose to life) di dunia ini, sehingga masing-masing memiliki tujuan sekehendak hawa nafsunya.  Tidak memiliki standar aturan dan moral (objective morality), aturan dan moral yang dianut hanya didasarkan pada kesepakatan bersama mereka.

Apa akibatnya? Tanpa tahu hakikat tujuan hidup membawa kepada ketidakpastian, kebingungan, dan ketersesatan dari fitrah kemanusiaan. Hidup tanpa standar aturan, tidak bisa membedakan yang benar, baik, dan bermanfaat dari hal yang salah, buruk, dan mudharat. Sehingga mereka akan berbuat sesuka keinginan tanpa khawatir diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Mereka menyangka berbuat baik padahal itu buruk buat mereka. Tambah lagi mereka merasa benar padahal tidak tahu dan punya tolok ukur kebenaran.

Manusia model begini kebanyakan hanya menjalani kehidupan di dunia sekadar melewatkan waktu saja. Terlahir, tumbuh dari kecil menjadi besar dan  dewasa, hingga akhirnya menua, dan mati meninggalkan dunia. Waktu hidup dihabiskan hanya dengan aktivitas yang sia-sia, makan, minum, tidur, bersenang-senang. Mereka disebut dalam Al Quran, tidak lebih dari binatang ternak, bahkan boleh jadi lebih rendah dan sesat. Na’udzubillaah.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, meyakini akan adanya hari akhir dan akan tiba masa pembalasan amal perbuatan sewaktu di dunia. Inilah salah satu alasan terbesar kita untuk bersyukur kepada Allah atas karunia Islam dan iman. Diantara kita barangkali ada yang terlahir dalam keadaan Islam dan tumbuh berkembang dalam keimanan, atau barangkali di tengah perjalanan hidup Allah karuniakan hidayahnya.

Sejak pertama kali kita bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, begitu gamblang dan terperincinya penjelasan tentang hakikat hidup dan kehidupan. Begitu banyak  ayat Alquran maupun hadits Rasulillaah yang mengabarkan  kepada kita bahwa Allah lah yang menciptakan manusia dengan satu tujuan yakni supaya mengabdi dan beribadah kepada-Nya (QS. 51:56), Allah menciptakan hidup dan lalu kematian adalah sebuah ujian sehingga akan terpilih yang terbagus amalnya (QS. 67:2), manusia diciptakan tidaklah untuk hal sia-sia, melainkan penuh makna, hikmah dan tujuan (QS. 76:36, 23:115). Menjalani kehidupan pun dituntun oleh petunjuk Allah Rasul-Nya, dengan firman-NYa “sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa” (QS. QS 49:13), yakni yang paling menjaga ketaatan kepada Allah dengan sekuat tenaga dan menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari kedurhakaan kepada Allah.

Dan dengan ucapan beliau SAW: “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat” (Shahihul Jami’ no:3289), yang menginspirasi umatnya untuk senantiasa berkarya yg memberi manfaat kepada umat manusia. Islam mengatur setiap aspek dan segi kehidupan dengan syari’at yang paripurna, siapa yang meyakini dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata maka dia akan meraih capaian yang tidak akan pernah dicapai kecuali oleh orang yang melakukan serupa. Begitu pula ketika satu keluarga, satu bangsa, satu kaum melakukannya, niscaya Allah akan limpahkan karunia dengan capaian yang luar biasa  baik di dunia dan di akhirat. Sungguh merugi orang yang menyia-nyiakan nikmat termulia ini!

Semoga Allah karuniakan taufiq kepada kita semua dan golongkan kita menjadi bagian dari orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya dengan sebenar-benar keimanan dan meneguhkan hati kita untuk meniti jalan ketaatan.

_______________________________________

H. Tri Widayatno, ST., MSc., PhD. , kelahiran Boyolali, saat ini beliau bermukim di Bantul, Yogyakarta. Menyelesaikan gelar sarjana dari jurusan Teknik Kimia UGM Yogyakarta, alhamdulillah berkesempatan meraih gelar master dan program doktoral di University of Newcastle upon Tyne, Inggris. Saat ini beliau aktif mengajar dan menjadi pengelola di jurusan teknik kimia sebuah universitas swasta di kota Surakarta, Dewan Kemakmuran Masjid di lingkungan rumahnya, mengisi kajian, Pengawas Syariah KSU Kirap Entrepreneurship, dan membina Yayasan Kirap Arsyada, Sawit, Gantiwarno, Klaten.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *