Wakaf, Amalan Luar Biasa

Penulis :  Fahmi Khotib

 

Wakaf, satu kata yang sudah tidak asing didengar telinga masyarakat muslim dunia dan Indonesia. Istilah ini lebih sering digunakan pada saat pembangunan rumah ibadah, kompleks pemakaman, pendidikan ataupun tempat hunian. Walaupun sudah menjadi kata yang umum, tidak banyak orang yang memahami apa itu wakaf.

 

Pengertian Wakaf
Menurut Ibnu Manzhur kata wakaf berasal dari bahasa Arab yaitu Waqf yang berarti menahan, berhenti, atau diam. Untuk pengertian sendiri, beberapa ulama fikih memiliki perbedaan pendapat. (dikutip dari wakaf center)

Hanafiyah mengartikan wakaf sebagai menahan materi benda (al-‘ain) milik Wakif dan menyedekahkan atau mewakafkan manfaatnya kepada siapapun yang diinginkan untuk tujuan kebajikan (Ibnu al-Humam: 6/203). Definisi wakaf tersebut menjelaskan bahawa kedudukan harta wakaf masih tetap tertahan atau terhenti di tangan Wakif itu sendiri. Dengan artian, Wakif masih menjadi pemilik harta yang diwakafkannya, manakala perwakafan hanya terjadi ke atas manfaat harta tersebut, bukan termasuk aset hartanya.

Malikiyah berpendapat, wakaf adalah menjadikan manfaat suatu harta yang dimiliki (walaupun pemilikannya dengan cara sewa) untuk diberikan kepada orang yang berhak dengan satu akad (shighat) dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan Wakif (al-Dasuqi: 2/187). Definisi wakaf tersebut hanya menentukan pemberian wakaf kepada orang atau tempat yang berhak saja.

Syafi‘iyah mengartikan wakaf dengan menahan harta yang bisa memberi manfaat serta kekal materi bendanya (al-‘ain) dengan cara memutuskan hak pengelolaan yang dimiliki oleh Wakif untuk diserahkan kepada Nazhir yang dibolehkan oleh syariah (al-Syarbini: 2/376). Golongan ini mensyaratkan harta yang diwakafkan harus harta yang kekal materi bendanya (al-‘ain) dengan artian harta yang tidak mudah rusak atau musnah serta dapat diambil manfaatnya secara berterusan (al-Syairazi: 1/575).

Hanabilah mendefinisikan wakaf dengan bahasa yang sederhana, yaitu menahan asal harta (tanah) dan menyedekahkan manfaat yang dihasilkan (Ibnu Qudamah: 6/185).

 

RUKUN WAKAF

Agar dapat dilaksanakan, ada beberapa Rukun wakaf yang harus diketahui. Ada empat rukun wakaf, diantaranya:

✅ Orang yang akan melakukan wakaf (al-waaqif)

✅ benda atau harta yang akan diwakafkan (al-mauquf)

✅ Orang yang akan menerima wakaf (al-mauquf’alaihi)

✅ Akad atau ikrar wakaf (sighah)

 

SYARAT WAKAF:

1. Harta yang akan diwakafkan memiliki nilai (ada harganya).

2. Harta yang akan diwakafkan memiliki bentuk yang jelas.

3. Harta yang akan diwakafkan merupakan hak milik dari wakif (orang yang akan wakaf), bukan merupakan pinjaman dari orang lain.

3. Harta yang akan diwakafkan dapat diserahterimakan.

4. Harta yang akan diwakafkan harus terpisah dari harta yang lainnya.

 

orang yang menerima dan mengelola wakaf sering disebut Nadzir yang diperbolehkan berasal dari keluarga waqif atau bahkan waqif itu sendiri.

 

Tidak ada satu shahabatpun yang mampu , kemudian meninggalkan dunia tanpa meninggalkan wakaf atas hartanya.

Termasuk Ali bin Abi Tholib yang miskin pun juga berwakaf.

Sesungguhnya sedekah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir bahkan meskipun orang yang menyedekahkannya telah meninggal dunia adalah sedekah dalam bentuk wakaf.

Berbeda dengan sedekah biasa, wakaf biasanya berupa benda yang dapat diambil manfaatnya untuk umat, dan manfaat ini bersifat terus-menerus, tak hanya sekali pakai. Misalnya wakaf tanah, bangunan, sumber air, kebun, dan lain sebagainya yang manfaatnya bisa diperoleh berkali-kali untuk banyak orang.

Mari kita simak dan tiru apa yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah dalam berstrategi mencuri perhatian Allah dan RasulNya melalui wakaf:

 

1. Wakaf tanah oleh Umar bin Khattab

Pada suatu saat Umar bin Khattab memperoleh sebidang tanah di Khaibar. Lantas ia mendatangi Rasulullah dan berkata: “Aku telah mendapatkan sebidang tanah yang berharga, maka apa yang akan Engkau perintahkan kepadaku?”

Rasulullah menjawab, “Jika engkau menghendaki, wakafkanlah tanah itu (engkau tahan tanahnya) dan sedekahkan hasilnya.”

Atau dalam riwayat lainnya, Rasulullah bersabda, “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan.

Ibnu Umar berkata, ‘Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak dilarang bagi yang mengelola (nadzir) wakaf, makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta.’” (HR. Muslim)

Ketika mendapat tanah yang berharga, alih-alih menjual hasil panennya dan menerima banyak kekayaan dari tanah tersebut, Umar bin Khattab justru menjadikan tanah itu sebagai senjata untuk mendapat ridho Allah dan RasulNya.

 

2 Wakaf kecintaan Abu Thalhah

Apa yang biasa kita lakukan terhadap harta yang paling dicintai? Kebanyakan orang tentu akan menjaganya dengan baik, jangan sampai terlepas dari genggaman, atau menjadikannya koleksi yang berharga. Namun tidak demikian yang dilakukan oleh Abu Thalhah. Mungkin sebagian belum tahu, bahwa masjid Nabawi sebagian adalah wakafnya Abu Thalhah. Tak bisa dibayangkan pahalanya.

“Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Begitu Abu Thalhah mendengar ayat ini, ia langsung menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai’. Sementara harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Ini saya sedekahkan untuk Allah. Saya berharap dapat pahala dan menjadi simpananku di sisi Allah. Silahkan manfaatkan untuk kemaslahatan umat!”

Bairuha, bisa juga dibaca Biraha, merupakan kebun yang berada di depan masjid nabawi. Abu Thalhah tentu saja amat menyukainya dikarenakan kebun ini begitu berharga.

Namun justru karena kecintaannya pada kebun inilah yang membuatnya tanpa ragu mewakafkannya. Karena ia lebih memilih cinta Allah dan RasulNya daripada sekadar kebun yang berharga.

 

3. Wakaf sumur oleh Utsman bin Affan

Kisah wakaf paling fenomenal selanjutnya di zaman Rasulullah adalah wakaf yang dilakukan oleh Utsman bin Affan.

Saat itu Madinah dilanda kekeringan luar biasa, dan masyarakat harus rela membayar mahal air dari sumur seorang Yahudi. Atas dasar kepedulian dan keprihatinan pada umatnya, Rasulullah pun memberikan tantangan pada para sahabatnya.

“Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala.” (HR. Muslim)

Tak menunggu lama, Utsman dengan kecerdikan dan harta yang dimilikinya segera membeli sumur tersebut dan mewakafkannya untuk masyarakat sekitar. Yang luar biasa, hasil wakaf sumur ini sampai saat ini masih terus ada bahkan makin beranak-pinak menghasilkan manfaat yang lebih besar untuk masyarakat dari hari ke hari. Inilah wakaf dahsyat Utsman bin Affan yang memanfaatkan kondisi sulit dan kekeringan yang melanda Umat untuk kepentingan pribadinya kelak di akhirat. Dapatkah kita menirunya?

“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushhaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya di waktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi)

Sahabat, semoga Allah memampukan kita untuk melakukan sedekah jariyah berupa wakaf yang tentu saja selain bernilai pahala yang tak putus-putusnya, juga dapat meneguhkan posisi kita di hadapan Allah sebagai hamba yang lebih memilih cintaNya daripada harta dunia. Wallaahua’lam.

Abu Bakar yang mewakafkan sebidang tanahnya di Makkah yang diperuntukkan kepada anak keturunannya yang datang ke Makkah. Utsman menyedekahkan hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanahnya yang subur. Mu’ad bin Jabal mewakafkan rumahnya, yang populer dengan sebutan “Dar Al-Anshar”. Kemudian pelaksanaan wakaf disusul oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam dan Aisyah istri Rasulullah SAW.

 

Pentingnya wakaf untuk pribadi kita

“Apa yang kita makan, pakai akan rusak… Sedangkan yang kita berikan akan kekal”

Ketika Aisyah r.a menghidangkan makanan kesukaan Rasulullah yaitu paha domba (kambing), Rasulullah bertanya, “Wahai Aisyah, apakah sudah engkau telah berikan kepada Abu Hurairah tetangga kita?” Aisyah menjawab, “Sudah ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bertanya lagi, ” Bagaimana dengan Ummu Ayman?” ” Aisyah kembali menjawab, “Sudah ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bertanya lagi tentang tetangga-tetangganya yang lain, adakah sudah di beri masakan tersebut Sampai Aisyah merasa penat menjawab pertanyaan-pertanyaan Rasulullah. ‘Aisyah kemudian menjawab, sudah habis kuberikan, Ya Rasulullah. Yang tinggal apa yang ada di depan kita saat ini….

Rasulullah tersenyum dan dengan lembut menjawab, “Engkau salah Aisyah, yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan. ” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah SAW bersabda, Kelak di hari akhirat manusia akan berkata “Inilah harta bendaku! Padahal tidak ada harta benda yang di perolehnya di dunia kecuali tiga hal, apa yang ia makan akan keluar dari tubuhnya menjadi kotoran, apa yang ia pakai akan menjadi rosak, dan apa yang sedekahkan akan menjadi kebaikan yang kekal baginya” (HR. Muslim)

 

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *